Menelusuri Jejak Kuliner Tembayat dalam Serat Centhini

Main Article Content

Minardi Minardi Samidi Samidi Yulinar Aini Rahmah

Abstract

Abstract


This study aims to determine the kinds or variety of food that was in Tembayat listed in Serat Centhini. For administration, said Tembayat is no longer entered in the population, but at least the word Tembayat the show to an area of old are now in the whole territory of the District of Bayat and most Kecamatan Wedi, still belongs to the region of Klaten Regency to the South. In addition, the study also aims to describe the political atmosphere manufacture of fiber or the work of this paper. This study used qualitative methods, including in the research literature. The object of research, reference, and referral-other referral obtained through written sources. Then confirmed by interviews with community leaders, to know the existence of the names of the food at the moment. In explaining the political atmosphere during the manufacture of Serat Centhini, researchers using the Theory of Soft Power by Joseph Nye. The resulting conclusion is that there are around 48 the name of the food that is written in the Serat Centhini. The condition of this culinary rarely heard by the public, the bias is said to have been a rare occurrence in Tembayat. About the political atmosphere, Serat Centhini was written by the candidate Pakubuwana V, while the father that Pakubuwana IV still reigned in the Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Current conditions, Kraton Surakarta besieged by Pura Mangkunegaran, the Palace of the Sultanate Ngayogyakarta and the Netherlands, or better known as Pakepung. Then to raise the prestige or name Kraton Surakarta then this paper to be a form of resistance from Surakarta. Since that time, no paperwork, as complete as that by loading all the potential of the Island of Java, it is often referred to as the Encyclopedia of Java.


---


Abstrak


Kuliner merupakan kekayaan khazanah kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Kuliner-kuliner di Indonesia berkembang sejak dahulu sampai sekarang dan menjadi identitas di setiap daerah. Tulisan-tulisan kuno telah mencatat menu-menu kuliner Nusantara, baik di prasasti, serat kuno, lontar maupun relief candi. Namun juga terdapat menu-menu lain yang tidak tercatat dan hanya diturunkan melalui tutur lisan. Serat kuno yang menyebutkan tentang kuliner diantaranya Serat Centhini Jilid III. Serat Centhini Jilid karya putra mahkota yang bergelar Pakubuwono V dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari sekian banyak kuliner yang disebut dalam Serat Centhini Jilid III, menyebutkan juga aneka macam kuliner dari Tembayat. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan metode kualitatif. Sumber utama adalah Serat Centhini Jilid III, sedangkan sumber pendukungnya adalah tulisan-tulisan yang relevan. Terhitung tidak kurang dari 50 menu kuliner Tembayat yang tersaji. Semuanya yang disampaikan hanya mengenai makanan, sedangkan minuman dan jamu tidak disebutkan. Jenis makanan yang disebutkan meliputi sayuran, urapan, tumis dan lauk-pauk. Masih ada makanan yang dapat dilacak keberadaannya, namun ada makanan yang sudah tidak terdengar lagi di Bayat atau mungkin telah dimodifikasi maupun berganti nama.


Kata Kunci: Serat Centhini, Kuliner, Tembayat

Article Details

How to Cite
MINARDI, Minardi; SAMIDI, Samidi; RAHMAH, Yulinar Aini. Menelusuri Jejak Kuliner Tembayat dalam Serat Centhini. Manuskripta, [S.l.], v. 11, n. 1, aug. 2021. ISSN 2355-7605. Available at: <http://journal.perpusnas.go.id/index.php/manuskripta/article/view/180>. Date accessed: 17 sep. 2021. doi: https://doi.org/10.33656/manuskripta.v11i1.180.
Section
Articles

References

Agusta, R. (n.d.). Tanding Sastra Putran: Sebuah Analisis Wacana Foucault terhadap Teks Centhini Pasca Reformasi. Retrieved May 28, 2021, from http://kbi.kemdikbud.go.id/kbi_back/file/dokumen_makalah/dokumen_makalah_1540355825.pdf.
Al-Qurtuby, Sumanto. (2019). Menggali Sejarah Lewat Tradisi Lisan. https://sumantoalqurtuby.com/menggali-sejarah-lewat-tradisi-lisan/ diunduh pada 18 Agustus 2021, pukul 20.25 WIB.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. (2016). Komplek Makam Tembayat. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/komplek-makam-tembayat/ diunduh pada 18 Agustus 2021 pukul 21.49 WIB.
Behrend. (1990). Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 1 Museum Sonobudoyo. Penerbit Djambatan.
Carey, Peter. (2011). Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 Jilid 1. Kepustakaan Populer Gramedia.
Carey, Peter. (2017). Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa. Kepustakaan Populer Gramedia.
Damono, Sapardi Djoko. (1978). Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Pustaka Raya.
Densin, Norman dan Lincoln, Yvonna. (2009). Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dewi, Trisna. (2011). Kearifan Lokal “Makanan Tradisional” Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat. Jurnal Manassa 1(1): 163.
Hadi, Kuncoro. 2018. Trah Kajoran-Tembayat Dalam Pergolakan Politik di Keraton Jawa Tengah-Selatan, Abad Ke-17 Hingga Abad Ke-19 dalam Buku “Urip iku Urub”. Jakarta: Kompas.
Irawan, Yudhi. (2018). Catatan Sejarah dalam Babad Sapehi. Jumantara 9(2): 96-97.
Kamajaya, Partokusumo Karkono. (1988). “Serat Centhini Relevasinya dengan Masa Kini”. Makalah dari Ceramah, di Balai Pustaka pada hari Jum’at Pon, 2 September.
KGPA Anom Amengkunagoro III. Serat Centhini Jilid III alih bahasa. https://ki-demang.com/centhini/images/pdf/centhini03.pdf diunduh pada 18 Agustus 2021, pukul 19.58 WIB.
Mahdiyah, Nada Qonita (2019). Laku dan Pengetahuan Spiritual Ki Ageng Pandhanaran dalam Lakon Wedhare Sedat Tembayat. Kawruh: Journal of Language Education, Literature, and Local Culture 1: 60.
Muhajir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rakesarasin.
Novika, Soraya. (2021). Cerita Tempe Dipatenkan Jepang Sulit Dicari di Indonesia. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5319870/cerita-tempe-dipatenkan-jepang-sulit-dicari-di-indonesia diunduh pada 18 Agustus 2021, pukul 19.58 WIB.
Nurnaningsih. (2010). Kajian Stilistik: Teks Seksual dalam Serat Centhini Karya Pakubuwono V. Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
Nye, Joseph. (2004). Soft Power and American Foreign Policy. Political Science Quarterly 119, No. 2: 256-260.
Soebadio, Haryati. (1973). Masalah Filologi. In Makalah Seminar Pengajaran Sastra Daerah: Bali-Sunda-Jawa (p. 7).
Sucahyo, Nurhadi. (2021). Rempah-rempah dan Diplomasi Kuliner Nusantara. https://www.harianaceh.co.id/2021/03/30/rempah-rempah-dan-diplomasi-kuliner-nusantara/ diunduh pada 18 Agustus 2021, pukul 19.33 WIB.
Susilantini, Endang. (2014). Kuliner Tradisional Jawa dalam Serat Centhini. Jurnal Jantra 9(1): 82
Tim. (2005). Tempat-tempat Spiritual Provinsi Jawa Tengah (Kab. Klaten dan Kab. Magelang). Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jendral Nilai Budaya, Seni dan Film.
Tim. (2012). Tempe: Persembahan Indonesia untuk Dunia. Pusindo.
Utami, Sri. (2018). Kuliner Sebagai Identitas Budaya: Perspektif Komunikasi Lintas Budaya. CoverAge: Journal of Strategic Communication 8(2): 37.
Warawardhana, Deni dan Maharani, Yuni. (2014). Indonesia Culinary Center. Jurnal Tingkat Sarjana Senirupa dan Desain 1(6): 1.

Wawancara:
Saryono, tokoh masyarakat di Tembayat, sekaligus Abdi Dalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, tahun 2021.

Most read articles by the same author(s)

Obs.: This plugin requires at least one statistics/report plugin to be enabled. If your statistics plugins provide more than one metric then please also select a main metric on the admin's site settings page and/or on the journal manager's settings pages.